Rabu, Oktober 29, 2008

Indonesiaku Besar Sekali

Kita (orang Indonesia) ditakdirkan hidup di negeri Indonesia ini. Negeri yang sekarang ditakdirkan menjadi negeri terbesar ke-4 di muka bumi dan negeri terbesar di dunia Islam saat ini. Apabila jumlah penduduknya digabungkan semuanya, total jumlah penduduk di Indonesia ini sama dengan jumlah total penduduk dari 22 negara Arab. Apabila luas wilayahnya kita jelajahi dengan pesawat terbang dari Sabang sampai Merauke, itu sama dengan luas wilayah ketika kita terbang dari Jakarta ke Jeddah. Atau dari London ke Moskow. Negeri ini diberikan oleh Allah SWT kekayaan yang melimpah ruah. Semua jenis kekayaan yang kita perlukan untuk membangun sebuah peradaban sudah ada di negeri ini. Satu-satunya karunia yang belum pernah diberikan ke negeri ini adalah karunia kepemimpinan yang bisa menggunakan seluruh potensi untuk membangun sebuah peradaban Indonesia.

Saudaraku sekalian,
Negeri sebesar Indonesia ini, bukan hanya membutuhkan orang besar, tetapi juga membutuhkan otak besar untuk mengaturnya. Kalau kita datang tidak dengan otak besar seperti itu, niscaya kita tidak akan bisa mengatur negeri ini. Otak besar itu memiliki ide-ide besar. Ruang visibilitynya besar. Sebereapa besar ruang kemungkinan itu tergantung kepada seberapa besar ide-ide kita. Kalau kita itu ide-ide-nya kecil, maka besaran tindakan kita juga kecil. Namun kalau kita punya ide-ide besar, maka besaran tindakan kita juga besar.

Sebuah bangsa atau sebuah komunitas, akan menjadi besar, jika dia pada dasarnya mempunyai ide-ide besar. Coba lihat kenapa Imam Hasan Al-Banna itu dakwahnya tidak mati-mati walaupun dia sudah mati. Karena ruang visibility dari dakwahnya itu sangat luas. Yang tujuan akhirnya tidak akan tercapai oleh harakah dakwah di Mesir. Karena tujuannya akhirnya adalah ustadziyatul 'alam, soko guru dunia.

Begitu kita menetapkan satu tujuan akhir yang sangat besar seperti itu, maka kita menerapkan ruang visibility, ruang kemungkinan yang harus lebih besar. Oleh karenanya derivasinya adalah alwajibatu aktsaru minal auqat, kewajiban itu lebih banyak dari waktu (yang tersedia). Tiba-tiba stok waktu kita tidak cukup untuk menyelesaikan tugas-tugas besar seperti itu. Dala suatu waktu tiba-tiba kita bertemu dengan kaidah umru dakwati athwalu min a'malina, umur dakwah itu lebih panjang daripada umur-umur kita semuanya, karena ruang visibility-nya tadi.

Selasa, September 23, 2008

Mata Rantai Maksiyat

Tahukah Anda, bahwa mendengar ghibah akan menyebabkan kita tergilitik untuk ikut menggibah? Bahkan kita akan menggibah di tempat lain dengan "bahan" hasil pendengaran kita tadi? Itu artinya kita ikut mendistribusikan gibah.

Tahukah Anda, bahwa setelah kita asyik berghibah, maka kita akan tergoda untuk lebih jauh daripada itu, yaitu memfitnah.

Kemudian berikutnya adalah tajassus, kemudian bermusuhan, melakukan tipu-muslihat, kemudian bertengkar.

Tahukah Anda, saat bertengkar, maka akan bermunculanlah ratusan maksiyat lainnya.

Puncak daripada itu semua adalah rusaknya ukhuwwah. Padahal ukhuwwah adalah wajib.

6 Puasa Khusus

"Kebanyakan manusia berpuasa tetapi tidak mendapatkan pahala puasanya kecuali lapar dan dahaga"

Mendekati hari terakhir puasa Ramadhon, seharusnya kita, kaum muslimin semakin rajin beribadah. Semakin rajin tilawah, semakin rajin 'itikaf. Tetapi beberapa gangguan semakin banyak. Tidak hanya persiapan lebaran, tetapi juga persiapan mudik. Tidak hanya tontonan di rumah--TV--, tetapi juga tontonan di jalan, di mall dan lain-lain.

Padahal contoh dari Rasulullah saw, yang kita ketahui dari para salafushsholeh, mereka semakin rajin beribadah. Tidak hanya sekedar puasa menahan lapar dan dahaga, tetapi lebih daripada itu.

Menurut imam Ghazali rahimahullah, ada puasa yang lebih khusus, dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang khusus. Maksudnya orang kebanyakan sulit melakukannya.

1. Puasa menahan pandangan, dari memandang hal-hal yang makruh, apalagi yang haram.
2. Puasa menahan lidah, dari mengeluarkan kata-kata yang bodoh dan menyebabkan kita masuk neraka.
3. Puasa menahan pendengaran dari mendengar hal-hal yang makruh-haram
4. Puasa menahan seluruh anggota badan
5. Puasa menahan diri untuk tidak makan berlebihan saat berbuka
6. Puasa dengan rasa takut dan harap saat berbuka. Takut khawatir puasanya tidak diterima, dan harap agar kita dimasukkan oleh Allah SWT sebagai muqorrabin.

Minggu, Desember 30, 2007

Kita antara kemampuan dan pilihan

"Bukan kemampuan dan kekuatan kita yang menentukan pribadi kita, tetapi pilihan yang kita buat" -- Dumbledore (Harry Potter)

Hidup adalah pilihan. Pilihan yang tepat kadang-kala tidak selalu benar. Yang benar kadang-kala diluar kemampuan kita. Oleh karena itu kapabilitas tidak dapat menjadi parameter utama yang mempengaruhi tindakan kita. Sebab tidak adanya kemampuan akan membatasi pilihan-pilihan kita. Sebaliknya, kita dapat saja memiliki kemampuan, tetapi kita memilih jalan lain. Jadi pilihan kitalah yang menentukan.

Seseorang tidak akan melakukan maksiyat bila tidak ada kemauan-kemampuan-kesempatan. Kesempatan itu takdir dari Allah SWT. Paling-paling kita mengusahakan kesempatan. Tetapi ada tidaknya kesempatan itu kembali kepada takdir Allah SWT. Sedangkan kemampuan adalah akumulasi pemahaman-pelatihan-pengalaman yang telah kita lewati selama ini. Jadi muncul-nya tidak tiba-tiba. Kemauan atau pilihan, adalah semacam katup bagi air yang mengalir, ia adalah pintu. Ia adalah nurani kita yang membolehkan kemampuan keluar menggapai kesempatan. Ia adalah kesadaran jiwa atau dorongan syahwat. Disitulah manusia ditanya pertanggung-jawabannya.

Senin, Oktober 30, 2006

Ahli dalam segala bidang, kecuali pada Tupoksi-nya

Bapak Syahrul, Ka.Pusinov (Kepala Pusat Inovasi) LIPI:
"Tipikal orang-orang kita, (ingin) ahli dalam semua bidang, kecuali tugas dan fungsi pokoknya"

Pernyataan tersebut ada banyak benarnya. Anda akan banyak temui di tempat-tempat ngobrol, mangkal para "ahli" kita tersebut. Maka semua hal akan bisa diobrolkan, kecuali kalau sudah menjurus kepada "core competence" pembicara. Bila sudah pada tema tersebut, maka perkataannya menjadi sulit dimengerti, bahasa alien pasti banyak keluar. Slogan "kalo bisa dipersulit kenapa musti dipermudah", ternyata tidak saja menjangkiti kalangan birokrat dan layanan masyarakat saja, tetapi sudah mendarah daging sampai ke ujung lidah kita.

Semakin mudah penjelasan seseorang untuk hal-hal yang sulit, itu menunjukkan kepahamannya yang mendalam. Ia dapat menggambarkan tema tersebut seseuai dengan latar belakang, pemikiran dan budaya pendengarnya. Kepahamannya tidak saja mengenai tema yang dibicarakan, tetapi juga kepahamannya tentang pendengarnya.

Kita cenderung menjadi generalis, dan takut menjadi spesialis. Karena memang semakin spesifik bidang kita, maka semakin sempit pasar kita. Tetapi jangan lupa, semakin mahal harga kita :-)


Ahli yang tidak Ahli

Pernah tidak menghadiri suatu seminar, dimana kita tidak mengerti apa yang disampaikan oleh pembicara?
Bukan berarti pembicara tidak kompeten dibidang itu (meskipun itu juga sebab), tetapi lebih kepada tidak mampunya pembicara membahasakan apa yang ia ingin sampaikan kepada pendengar.

"mengapa suatu presentasi tidak komunikatif terhadap pendengar?"

Masalah ini sebenarnya adalah masalah klasik, dimana seorang ahli kesulitan untuk membagi pengetahuannya kepada awam.
Sebab pertama adalah, para ahli belum dapat mengungkapkan tema pembicaraan itu sesuai dengan kapasitas pengetahuan para awam, yaitu belum dapat "membahasakan" tema tersebut dalam bahasa awam.
Kenapa hal ini terjadi, padahal awalnya ahli juga awam terhadap tema tersebut. Seorang ahli pastilah mengalami masa-masa dimana ia berjuang keras mencoba mengerti tema tersebut. Nah, permasalahannya ... saat ia menjadi ahli, beberapa "sejarah" dalam otaknya/benaknya tentang masa-masa awal itu telah hilang, tergantikan dengan pengetahuan-pengetahuan baru yang ia dapatkan.
Intinya, ia kehilangan sejarah "detail rantai information gap" yang menjembatani antara pengetahuan ahli dg pengetahuan awam. Ia hanya dapat mengetahui secara global rantai information gap yang dimaksud.

Ibarat orang naik gunung asing baginya, maka saat ia mencapai puncak, ia dapat saja memberitahu rekannya (yang masih dibawah) "secara global" bagaimana cara mencapai puncak. Tetapi tentu saja detail-detail ada berapa semak-semak atau duri-duri jalanan yang harus dihindari kapan dan dimana .... tidak dapat dijelaskan ... karena ia lupa.

Hal ini sering kali terjadi pada kita. Kita seringkali mengalami kesulitan menjelaskan sesuatu kepada orang awam. Bukan berarti kita tidak mengetahui masalahnya (meskipun pemahaman yang kurang mendalam juga menjadi sebab lain :-). Karena pada saat kita ngobrol dengan sesama ahli, obrolan terasa gurih dan nikmat, yang itu artinya kita nggak ketinggalan banget, masih nyambung.

Nah bagaimana solusinya?

Pertama, sering-sering mengajarkannya/mengungkapkannya kepada orang awam. Maka "jam terbang" akan meningkatkan kemampuan kita membahasakan suatu tema rumit menjadi mudah. Sebab semakin sering kita melakukan itu, pada dasarnya semakin sering pula kita "mencoba menemukan kembali detail rantai informasi gap" yang telah kita lalui, sehingga kita menjadi ahli seperti sekarang ini.
Oleh karena itu, salah seorang presenter/guru/penulis (saya lupa namanya) pernah memberikan tips bahwa kita harus senantiasa belajar menjelaskannya kepada anak kecil.

Solusi kedua adalah mencoba mendalami lebih dalam lagi fenomena/ilmu tersebut sehingga kita dapat memodelkannya dengan sangat sederhana.
Dari beberapa penelitian, seorang programmer senior lebih berfikir abstrak, dan programmer yunior lebih berfikir konkret atau di level syntax. Begitu pula di bidang-bidang lain. Ahli lebih filosofis/abstrak, awam lebih pragmatis/konkret.
Oleh karenanya, penjelasan seorang begawan sering kali mudah, singkat tetapi mencakup seluruh makna yang dimaksud. Sedangkan penjelasan seorang pemula seringkali bertele-tele, karena ia belum dapat menemukan "intisari" dari apa yang harus ia jelaskan.

Kamis, Juli 27, 2006

Kelemahan adalah Kekuatan

Sepanjang hidupnya manusia selalu dalam kondisi dilematis, sangat terancam bahaya, terbentur ketidak berdayaan, terpepet oleh bayangan musibah dan petaka.

"ketahuilah, takdir itu tidak berjalan menurut rencana kita, bahkan kebanyakan yang terjadi adalah apa yang tidak kita rencanakan, dan sedikit sekali terjadi apa yang kita rencanakan"
(Ibnu Athoillah)

"Kekuatanku adalah kelemahanku"
(Badi'uzzaman Sain an-Nursy)

Begitu banyak peristiwa yang mengajarkan, bagaimana pun tinggi derajat seorang manusia baik di sisi manusia lainnya, maupun di sisi Allah SWT, ia tidak terlepas dari ancaman kesulitan dan problem.

Pada saat diri telah sampai batas, batas prasangka kita. Maka diri mulai menyerah.
Pada saat kelemahan begitu jelas, diantara sengal nafas kepayahan dan kecemasan, maka disaat itulah kedekatan dan kepasrahan semakin kuat,dan semakin total kepada Zat Penguasa Alam, Sang Maha Kuasa.

Tetapi pada saat itulah, saat kepasrahan total tercapai, sandaran pada Allah semakin kuat, dan suplay tenaga dan keyakinan itu bertambah, maka datanglah pertolongan Allah.

Oleh karena itu Sodaraku, ...
teruslah berjoeang.

(dicuplik sebagian dari "Mencari Mutiara di Dasar Hati", M. Nursani, Tarbawi)

Selasa, Februari 14, 2006

Ar-Rasyid: Kuburan Kita Yang Membisu

Abu Darda’ Tertawa

Manusia tenggelam dalam kelalaiannya,
Padahal roda kematian terus bergulir


Abu Darda’ tertawa.
Abu Darda’ heran menyaksikan gambaran kehidupan manusia
Abu Darda’ melihat celah-celah kelalaian
sebagai akibat dari parahnya ketamakan kepada dunia
yang menghalangi kesudahan yang mengerikan
yang menuai orang-orang lain disekitarnya

Padahal mereka tidak memiliki sedikit jaminan pun
Untuk menolak kesudahan yang mengerikan itu
Seandainya maut datang kepada mereka
Sebagaimana maut telah mendatangi orang-orang lain

Abu Darda penyayang, merasa kasihan
Rasa kasih sayang itu menggerakkannya untuk mencolek
Bahu orang itu dengan telunjuknya seraya mengatakan

Kasihan kamu,
Bagaimanakah dengan kamu
Bila telah dilakukan penggalian
Seluas empat hasta buat kamu


Hari Penuaian

Engkau tiada lain seperti tanaman
Yang telah menghijau
Saat itu engkau menjadi tujuan
Dari semua hama dan penyakit
Jika engkau selamat dari semua penyakit itu
Maka dipuncak usiamu itu
Engkau akan dituai


Yaitu dihari pekikan.
Ketika kening berkeringat
dan rintihan tidak pernah berhenti
saat nyawa berada dikerongkongan
saat seluruh tubuh menjadi dingin
saat rasa sakit kematian menguasai diri
tubuh melemah dan
pecahlah tangisan kaum perempuan

Mereka menangisimu karena sedih akan ditinggalkan olehmu
Dengan tangisan yang memilukan hati
Rintihan mereka bersahut-sahutan
Dan mereka mencurahkan air matanya
Bagaikan hujan yang lebat


Kemudian datanglah orang-orang yang menyingkirkan mereka
Untuk memandikanmu dengan segera

Mereka memandikanmu dengan segera dan tidak sabar.
Bila orang yang membawa air terlambat, mereka berseru
“Cepatlah! Kami mempunyai kesibukan yang lain!”

Maka janganlah engkau melupakan hari yang di saat itu
Engkau dibaringkan di atas kerandamu
Diusung oleh sekelompok orang di atas pundak mereka

Jika engkau saleh,
Saat itu engkau bergembira
Memekikkan kesenangan seraya berkata
“Dahulukan aku, dahulukanlah aku!”

Jika engkau tidak baik,
“Celakalah jenazahku,
kemanakah mereka hendak membawaku!”
Suaranya terdengar oleh segala sesuatu
Kecuali manusia.
Seandainya manusia dapat mendengarnya
Niscaya ia pingsan.

Hari tidur panjang

Ketika kedua malaikat mulai menanyaimu.
Baik bila engkau dulu baik.
Siksa bila engkau dulu durhaka.

Dan ulat-ulat terbangun oleh jeritanmu itu
Dan mereka mulai melakukan serangannya

Letakkanlah pipiku ke liang lahatku
Letakkanlah tubuhku
Dan baringkanlah ia pada tanah yang kotor

Bukakanlah kain kafan dari wajahnya
Dan tanamkanlah ia sedalam-dalamnya
Di dalam tanah

Jika kalian melihatnya setelah tiga hari
Niscaya kalian tidak akan mengenalnya
Bola matanya telah keluar
Dari kelopaknya ke pipinya
Dan kalian tidak mau menerimanya


Di sana hanyalah keheningan yang sempurna
Diiringi suara tiupan angin di atas gundukan tanah
Yang membisu.

Bila ada orang bertanya kepada kalian
Bagian manakah dari kedua pipimu yagn mulai hancur
Dan yang manakah di antara kedua matamu yang mulai membusuk?


Satu kuburan menjawab
Tiada yang tersisa selain dari batok kepalanya yang telanjang
Putih kelihatannya dan tulang yang telah rapuh


Kuburan lain menjawab
Mereka tidak dapat mengusir ulat-ulat itu dari wajahnya
Seakan-akan mereka bagaikan batang kayu
Yang tergeletak di dalam tanah


Atau suara kuburan lainnya
Mereka tidur dan tiada yang menyelimuti tubuhnya
Selain tanah
Dan tiada kemah yang menutupi tubunya
Selain kuburan

Sesungguhnya mereka telah kenyang makan
Dan telah hidup senang semasa hidupnya
Dan kini
Sesudah mereka lama makan dan bersenang-senang
Tibalah giliran mereka untuk dimakan


Wahai ahli kubur yang aku cintai
Sesudah masa senang dan gembira
Sesudah masa kesuburan dan kemakmuran
Dan sesudah masa senang dan hidup lapang

Sesudah ditemani oleh wanita-wanita cantik
Lagi menyenangkan
Dan sesudah ditemani oleh wanita-wanita pingitan

Kini kalian berada di dalam tanah
Di antara lapisan tanah dan bebatuannya.

Menunggu waktu yang sangat menakutkan
Yaitu waktu hisab dan catatan amal

Saudaraku, kematian adalah awal dari kehidupan abadi,
Bukan akhir dari segalanya.
Kematian adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya.
Sedangkan dunia ini adalah waktu persiapan.

Saudaraku, bersegeralah mempersiapkan bekal
Bekal untuk perjalanan yang panjang dan abadi.

(disadur dari: Kuburan Kita Yang Membisu, Pelembut Hati (Ar-Raqaiq), Muhammad Ahmad Ar-Rasyid)

Rabu, Desember 14, 2005

Andai Para Raja Itu Tahu ...


Andai para raja itu tahu kebahagiaan yang kami miliki, pastilah mereka rebut kebahagiaan kami itu dengan pedang-pedang mereka ....

Ungkapan seorang seorang ulama salafush-sholeh (kalau tidak salah Ibnu Taimiyah), mengomentari beberapa gangguan pemerintah terhadap perjuangan beliau. Perjuangan menegakkan dienul Islam, yang mengakibatkan beliau di penjara dan diusir.

Kehidupan bagaikan sebuah perjalanan. Ada awal, istirahat dan akhir. Kehidupan kita didunia ini bagaikan saat dimana seorang musafir istirahat sesaat dibawah rindangnya pohon, yang kemudian segera akan ia tinggalkan untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Hiduplah engkau di dunia, seperti orang asing, atau orang yang dalam perjalanan. Orang asing yang selalu hati-hati. Sebab, ia belum paham betul seluk beluk wilayah. Waspada terhadap segala kemungkinan buruk, berupa lobang-lobang dijalanan, duri yang bertebaran, salah jalan dan salah kendaraan.

Maka kehidupan yang paling baik dan indah, bilamana kita mempersiapkan untuk sisa hidup kita kelak. Bukan yang lalu dan bukan yang sekarang, tetapi untuk yang kemudian.

Seorang syaikh dakwah, Muhammad Ahmad Rasyid, mengobarkan kembali konsep Firasatilah dirimu, dimana setiap amal ketaatan akan menurunkan rahmat dan barakah Allah, dan sebaliknya setiap maksiyat atau meninggalkan ketaatan akan menurunkan azab Allah. Seringkali kita tidak merasakan azab dan balasan Allah tersebut, karena telah begitu kerasnya hati kita dan telah tertutupnya telinga kita. Firasati dirimu, yaitu dengan terus muhasabah, bahwa segala ujian yang telah kita rasakan saat ini, adalah akibat dari kita tadi atau kemarin telah bermaksiyat dan meninggalkan ketaatan. Firasati dirimu, dan bersegeralah bertaubat. Karena ketergelinciran haruslah disikapi dengan taubat. Mencari sebab kaki tergelincir, berazam tidak mengulangi kekeliruan dan lebih berhati-hati pada langkah selanjutnya.

Kehidupan dengan orientasi masa akhirat, melahirkan kenikmatan pada amal ketaatan. Dan sesungguhnya kelelahan karena melakukan ketaatan lebih disukai para salafush-sholeh kita. Lalu mengapa diri kita hanya memiliki tenaga dan waktu sisa untuk ketaatan.

Andai para raja itu tahu kebahagiaan yang kami miliki, pastilah mereka rebut kebahagiaan kami itu dengan pedang-pedang mereka ....




Senin, Desember 05, 2005

Niku Guru Kulo

Suatu renungan di Hari Guru yang telah mengingatkan kita, bahwa sebuah akhlakul karimah, berupa penghormatan kepada seorang guru.

Saya begitu terpengaruh dengan ucapan kakek itu terakhir sebelum turun panggung. "Masio isik enom, niku guru kulo." Meski masih muda (dari saya), beliau itu guru saya. Bagi saya, itu kalimat sederhana yang sarat makna dan tata-krama.

Betapa tidak? Kakek itu sampai detik ini masih menyebut "guru" kepada ustadz yang dulu, dulu sekali, pernah mengajarinya mengaji. Ia tidak menyebutnya dengan "mantan guru", "pernah jadi guru", apalagi "bekas guru." Ia tetap menyebutnya "guru", meski ia sendiri sudah tidak muda lagi.

Ini menunjukkan tata-krama yang luar biasa terhadap orang yang pernah berjasa membuat kita dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti. Dari bodoh menjadi pandai. Siapa saja. Bahkan Ali bin Abi Thalib r.a. pernah mengatakan bahwa siapa saja yang pernah mengajari kita, meski hanya satu huruf, adalah guru kita. Mungkin musuh kita adalah guru kita juga. Boleh jadi.


Selengkapnya baca di Kolom Oase, EraMuslim.Com 1 Desember 2005

Rabu, November 09, 2005

Madrasah Kematian ar-Rasyid

Dalam bukunya Ar-Raqaiq, Syaikh Muhammad Ahmad ar-Rasyid menggelar sebuah pasal "Sekolah Kematian" (Madarisul-Maut). Sebuah pasal berisi rangkaian kisah dengan tema utama Tadzkirul-Maut (mengingatkan akan kematian). Dari kisah madrasah Kufah, Syam dan pusat-pusat kekuasaan lainnya dikawal oleh para pemuka ulama.

"Kehidupan ini memang disukai oleh orang yang mempunyai ghirah (kecemburuan) dan sangat khawatir menghadapi kematiannya, karena kematian akan menjadi penghalang baginya untuk melakukan pelayanan kepada kaum muslimin dan menegakkan urusan dakwah Islam"

Rabu, Juli 20, 2005

"Ungkapan Perasaanmu, Nak!"

Kolom Keluarga, www.eramuslim.com dg judul

"Ungkapkan Perasaanmu, Nak"


Mengungkapkan perasaan adalah kemampuan komunikasi yang sangat esensial. Perasaan atau emosi adalah sebuah reaksi dalam diri seseorang terhadap keadaan, situasi, atau apapun yang dapat berakibat kepada otak dan fisik. Latihan berbagi perasan dan menyalurkannya dengan tepat, oleh karenanya menjadi sangat penting. Latihan berbagi perasaan dapat dimulai dengan mengenali perasaan, menamainya dan mencari jalan keluar. Anak dapat dilatih mengenali perasaannya dengan bantuan orang tua.

Selasa, Juli 12, 2005

Syaikhut Tarbiyah dalam Asasiyat Tarbawi

"Para aktifis anak bangsa harus diimunisasi dari putus asa dan apatisme yang membuat mereka jadi kebal dan akhirnya menikmati kepurukan yang bagai meluncur ke jurang. Protes jadi nyanyian duka yang parau dan liriknya jadi mantra-mantra yang kehilangan tuah"
(Rahmat Abdullah, "Zu Qou Ghu", kolom Asasiyat, Tarbawi, 62)

Itulah yang harus kita tumbuhkan dalam diri kita. Selanjutnya ia akan semakin mantap bila terus dijaga dalam bingkai istiqomah (tetap teguh dalam pendirian).

Tentang istiqomah, ust. Rahmat mengatakan, "Ia dalah gerak yang tak kenal henti. Ia adalah keteguhan yang tak kenal menyerah,. Ia adalah bukti kejujuran pengakuan siapa pun yang mengaku bertuhan Allah."
("Istirahat", kolom Asasiyat, Tarbawi, 52)

Istiqomah yang dimaksud adalah istiqomah dengan petujuk Al-Quran dan As-Sunnah.
Dan memang begitulah seorang pejuang mukmin sejati mesti menata langkah-langkah hidupnya, dengan prinsip bertumbuh sepanjang hayatnya. Dengan itu kepekaan terasah, tujuan akhir terpelihara, dan godaan-godaan tengah jalan bisa ditepis.

"Janganlah lihat hidup dari fenomena-fenomena, lihatlah dari hakekat. Kecuali keresahan hati dan kekakuan sikap yang tak pandai kau cairkan, selebihnya adalah senandung nasib yang kau boleh rintihkan bagi zaman sesudahmu atau jadikan itu sebagai khazanah doa yangakan kau panen di hari esok."
(Rahmat Abdullah, "Cucu Musholla", kolom Asasiyat, Tarbawi, 63)

"Mengejar ketertinggalan, sudh waktunya redaksi semacam ini dihapuskan selama-lamanya. Sangat melelahkan mengejar ketertinggalan yang tak pernah punya toleransi menunggu. Mengapa harus dikejar, kalau bisa dicegat sebelum datang? Atau diidentifikasi apakah sesuatu itu benar-benar ketertinggalan? Generasi awal dididik untuk tidak pernah merasa tertinggal, walaupun berbagai sumber daya penopang sistem kufur telah begitu kokoh. Kejelasan visi, kepastian langkah, keikhlasan pemimpin, ketaatan kader, dan kesungguhan berkorban semua pihak telah membuat kejutan-kejutan yang menyebabkan musuh merasa terkejar dan tertinggal."
(Rahmat Abdullah, "Desah-desak kapan pertolongan Allah", Asasiyat Tarbawi, 47)

"Biarlah harapan tetap tersisa pada berkah agung yang jerih payahnya selalu tertebus dengan kejayaan. Jangan lagi si jahil (bodoh) mengalamatkan seluruh bencana ini kepada risalahnya dan mengadreskan seluruh kedamaian pada lawan-lawannya. Mungkin ini harapan sederhana seorang fanatikus yang sangat mendalam sangka baiknya kepada keadilan-Nya, karena jalan masih selalu terbentang"
(Rahmat Abdullah, "Ummatku", kolom Asasiyat, Tarbawi, 60)

Grup Knowledge Management PDII-LIPI

Telah lahir weblog KM dari Grup KM PDII-LIPI. Klik di sini.

Saya sendiri termasuk baru bergabung dalam grup ini. Grup ini telah memulai penelitian KM sejak 2 tahun yang lalu. Dengan memakai studi kasus Jambu Mente, Grup KM PDII telah berhasil membuat sebuah prototype sistem KM.

Sejak akhir tahun lalu (2004), saya mulai bergabung dengan tim ini, membantu khusus dibidang IT. Namun, tetap bagi saya, KM masih merupakan bidang amat baru. Meskipun telah saya kenal sejak lama, tetapi saya tidak pernah berhubungan langsung dengan bidang ini, baik dalam penelitian maupun pekerjaan.

Oleh karena itu saya ucapkan terim kasih kepada tim KM PDII-LIPI, yang telah mengajak saya bergabung. Berbeda dengan tim-tim proyek lainnya, saya merasakan dinamika eksplorasi ilmu dan sharing ide dalam tim ini. Pada awalnya saya beranggapan, bahwa KM ya itu-itu saja. Dalam artian, tema ini sudah sejak lama diusung orang, tetapi antara ide/teori dan implementasi, sungguh sangat jauh. Bahkan sekarang pun masih seperti itu. Tetapi dinamika dalam tim itulah yang membuat saya tetap bertahan di dalamnya.

Senin, Juli 11, 2005

Syaikhut Tarbiyah dalam Asasiyat Tarbawi

Seonggok kemanusiaan terkapar.
Siapa yang mengaku bertanggung-jawab?
Tak satu pun.
Bila semua pihak menghindar, biarlah saya menanggungnya,
semua atau sebagiannya.
Saya harus mengambil alih tanggung-jawab ini,
dengan kesedihan yang sungguh,
seperti saya menangisinya
saat pertama kali menginjakkan kadi
di mata air peradaban modern,
beberapa waktu yang silam.

Sebegitukah puncak ketinggian yang kalian capai?
Lelaki dan perempuan yang melakonkan kedamaian dan harmoni.
Di taman-taman kota mereka bersama.
Di bus dan kereta api.
Begitu santun dan hangat basa-basi antar pasangan.
Apa yang kau simpan dibalik apartemen
yang telah menjadi kotak-kotak merpati
yang kering, dingin dan mati rasa

(Rahmat Abdullah, "sebuah kesaksian", Asasiyat, Tarbawi, 74)

Syaikhut Tarbiyah dalam Asasiyat Tarbawi

Berikut ini adalah cuplikan-cuplikan tulisan ust. Rahmat Abdullah di kolom Asasiyat majalah Tarbawi.

"Diperlukan suatu hentakan yakin yang akan melahirkan keberanian, keteguhan dan kesabaran bertolak dari jaminan yang tak pernah lapuk"
("Hakikat, Fenomena, dan Fatamorgana", Tarbawi 51)
-------------------

"Mereka yang tak pernah lupa hakekat hidup yang hanya sekali, tak pernah ragu untuk memilih keabadian di sisi-Nya dan terus menggaungkan suara kebenaran yang diyakininya. Beribu-ribu pengecut yang keluar rumah mereka dengan perasaan takut mati, yang membuat langkah menjadi berat dan gambar hari esok hanya berwarna hitam kelam, Allah katakan, Matilah kamu. Mereka telah mati jauh sebelum malaikat maut menjemput
...

Betapa perlunya generasi ini memahatkan dalam hati nurani mereka hakekat ini, bahwa tak ada nyawa cadangan dan tak ada umur reserve. Pertarungan sesudah hari-hari ini adalah hidup atau mati, hidup hina tanpa akidah atau mati mulia dalam kenangan abadi.

Dunia hari ini menunggu wujudnya pahlawan-pahlawan hidup yang tak lagi berfikir bila dan dengan cara apa mereka akan mati.

Kebencian yang terbuka dan kedengkian yang telanjang telah dipertontonkan.

(Komprador)
-------------------

Jumat, Juli 08, 2005

Pahlawan dan Kesempatan

'Everyone is born with genius, but most people only keep it a few minutes.' (Edgard Varese)

Benar apa yang dikatakan oleh Anis Matta, bahwa potensi kepahlawanan dan kesempatan bila bersatu akan mendongkrak calon pahlawan menjadi seorang pahlawan. Begitu banyak orang yang hebat dan memiliki segudang kemampuan, tetapi kesempatan tidak pernah datang kepadanya untuk menjadi pahlawan. Begitu juga sebaliknya, begitu banyak kesempatan datang, tetapi orang tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan kesempatan itu menjadi pahlawan.

Bahkan Anis Matta mengatakan bahwa para pahlawan sejati tidak selalu menghadapi situasi dan peristiwa yang mereka inginkan. Justru letak kepahlawanan mereka adalah menghadapi situasi sulit tersebut dengan tetap tabah, sabar dan dengan kekuatan kepribadian kepahlawanan mereka, mereka sanggup menjadi pelopor, agen perubah, agen penyelamat umat dengan menyelesaikan permasalahan atau krisis umat tersebut. Itulah yang mengukuhkan mereka menjadi pahlawan sejati.
Sehingga ustadz Anis Matta menyimpulkan bahwa "bila politik didefinisikan sebagai seni kemungkinan, maka kepahlawanan adalah kebalikannya, yaitu seni ketidakmungkinan"

Cerita dan KM

Bercerita ternyata cukup menyenangkan. Ngobrol cukup memabukkan, karena dengan obrolan kita sering lupa waktu.

Lalu apa kaitannya dengan KM (Knowledge Manajemen)? Ternyata telah sejak lama bercerita (storytelling) menjadi alat bantu para pekerja knowledge. Dari dua macam knowledge: tacit dan explicit, maka tacit adalah knowledge yang sulit untuk ditangkap atau ditransfer. Justru kegiatan bercerita dikatakan sanggup mentransfer tacit knowledge. Karena kegiatan bercerita disertai dengan konteks, yang hanya dapat dipahami, namun seringkali sulit untuk didokumentasikan.

Kamis, Juli 07, 2005

Manajemen Informasi vs Manajemen Knowledge

Sekedar ingin mengisi posting pertama di Blogger ini, ... :P

Obrolan siang ini dengan seorang peneliti senior. Senior banget. Saat beliau sudah terjun ke dunia penelitian, saya masih belum lahir. Nah, bisa dibayangkan begitu seniornya beliau.

Satu hal yang kami obrolkan adalah ada begitu banyak istilah tehnologi yang pada hakikatnya perulangan dari tehnologi lama. Dari "data processing" ke "manajemen informasi" lalu sekarang yang sedang ngetrend adalah "Knowledge Management". Memang ada banyak detail yang berubah, memang banyak kemajuan dalam bidang itu, tetapi pada hakikatnya "binatang" aslinya masih sama.

Lalu pertanyaannya adalah, perlukah kami-kami yang baru lahir ini, perlu mengetahui dulu pengertian-pengertian lama ttg hakikat tema itu, ataukah tidak? Beliau beranggapan bahwa yang baru tidak perlu lagi memahami yang lama. Biarlah ia memulai dengan yang baru. Dan yang sudah senior tidak perlu memaksakan istilah/pengertian lama tadi kepada orang baru. Toh istilah itu sudah demikian berkembang. Biarlah orang baru berangkat dari istilah dan konteks yang baru, tidak perlu terkukung atau terhambat oleh pengertian-pengertian lama.

Apakah KM atau Knowledge Management itu sama dengan Data Processing, bagi kita orang baru, tidaklah perlu memperdebatkan masalah itu. Terus maju dengan hal baru!