Rabu, September 18, 2013
Pandai saja tidak cukup, perlu juga menarik
Kamis, November 10, 2011
Faktor pembeda generasi sahabat dan generasi sekarang
- Faktor pertama adalah kesucian dan kebersihan mereka -- generasi sahabat -- dari pengaruh di luar Al-Qur'an. Satu-satunya sumber seluruh kehidupan mereka adalah Al-Qur'an - Kitabullah semata. Adapun sabda-sabda dan petunjuk Rasulullah SAW adalah konsekuensi dari Al-Qur'an. Sedangkan generasi sesudahnya, menjadikan sumber lain sebagai tambahan referensi kehidupan mereka. Terjadi alkulturasi antara sumber Al-Qur'an dan sumber diluar Islam. Ajaran filsafat Yunani beserta ilmu logikanya, mitos-mitos Persia, israilliyat Yahudi, teologi Nasrani, peradaban Kejawen dst. Semua beralkulturasi dengan penafsiran Al-Qur'an. Referensi yang telah "terkontaminasi" tersebut kemudian dipelajari oleh generasi-generasi sesudahnya.
- Faktor kedua adalah ketidaksamaan dalam metode pembelajaran. Generasi pelopor, mempelajari Al-Qur'an untuk mengamalkannya. Mereka menerima Al-Qur'an sebagaimana menerima perintah harian yang harus dikerjakan seketika itu juga, sebagaimana prajurit menerima perintah dari komandannya. Oleh karenanya, tak ada seorang pun sahabat Nabi yang meminta banyak-banyak penyampaian Al-Qur'an pada satu majelis, karena hal itu hanya akan menambah kewajiban-kewajiban dan aturan-aturan agama yang membebani mereka. Kesadaran menerima ilmu untuk mengamalkan itulah yang membuat mereka menjadi generasi yang unik. Sedangkan generasi setelahnya, mempelajari Al-Qur'an dan ilmu-ilmu turunannya, sebagai pemenuhan kepuasan akademik, hobi, atau untuk memenuhi perbendaharaan kosa-kata mereka. Al-Qur'an tidaklah hadir sebagai sebuah kitab yang memperkaya akal, tidak pula rujukan sastra dan seni, apalagi kita dongeng dan sejarah -- meskipun itu semua tercakup didalamnya. Al-Qur'an turun untuk menjadi pedoman hidup (way of live).
- Faktor ketiga adalah totalitas. Generasi pelopor masuk Islam secara totalitas. Tatkala mereka masuk Islam, berarti harus meninggalkan kesesatannya, yakni semua yang dilakukannya semasa jahiliyyah. Ia masuk dengan "komitmen baru". Ada pemisahan kesadaran (uzlah syu'uriyyah) secara penuh antara masa silam seorang Muslim dalam kejahiliyyahannya dengan masa kininya dalam Islam. Kita sekarang berada dalam kejahiliyyahan sebagaimana masa awal Islam, atau bahkan lebih dahsyat lagi.Tetapi kita tidak dapat totalitas dalam ber-Islam. Di satu saat kita menjalankan Islam, di saat lain kita melakukan kejahiliyyahan.
Kamis, Juli 01, 2010
Ghuroba tapi Gaul
Diriwayatkan Imam Thabrani dari Sahl ra., Rasulullah saw ditanya, "Siapakah Ghuraba itu ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "yaitu orang-orang yang melakukan perbaikan ketika orang-orang lain rusak."
Syaikh Saad Al Ghamidi seorang kader Al-Ikhwanul Al-Muslimun, munsyid, hafizh, dan qari terkenal, berkata dalam intro nasyid Arab yang sangat terkenal di kalangan aktivis harakah tahun 90-an berjudul Ghuraba yang dilantukannya sendiri dalam album Ad-Damaam 2:
Bukanlah oran gasing yang berpisah dari negerinya.
Tetapi orang asing itu adalah orang yang
melihat manusia di sekitarnya bermain-main,
ia membangunkan manusia disekitarnya yang tertidur,
dan ia di atas jalan kebaikan
ketika manusia di sekitarnya terbawa kesesatan
Ya gharib bukan uzlah, mereka terasing di sisi manusia laksana terpenjara, tetapi ia mulia di sisi Rabb mereka. Bukan orang yang uzlah, yaitu yang mengasingkan diri secara fisik, menjauhi kampung halamannya, lari dari masyarakatnya, bukan masyarakat yang menjauhinya.
Iman an Nawawi dalam kitabnya yang terkenal, Riyadhus Shalihin, membuat bab yang panjang berjudul, Keutamaan berbaur dengan manusia dan menghadiri perkumpulan dan jamaah mereka, menyaksikan kebaikan dan majlis dzikir bersama mereka, menjenguk orang sakit, dan mengurus jenazah mereka. Memenuhi kebutuhan mereka, membimbing kebodohan mereka dan lain-lain berupa kemaslahatan bagi mereka, bagi siapa saja yang mampu untuk amar ma'ruf nahi munkar, dan menahan dirinya untuk menyakiti, serta bersabar ketika disakiti.
Imam an Nawawi berkata, dalam Riyadhus Shalihin, "ketahuilah, bergaul dengan manusia dengan cara seperti itu yang saya sebutkan, adalah jalan yang dipilih oleh Rasulullah saw, dan seluruh Nabi shalawatullahu wa salamuhu 'alaihim, demikian pula yang ditempuh oleh Khulafa'ur Rasyidin dan orang-orang setelah mereka dari kalangan sahabat, tabi'in, dan orang setelah mereka dari kalangan ulama Islam dan orang-orang pilihannya. Inilah madzhab kebanyakan dari tabi'in dan orang-orang setelah mereka, ini pula pendapat Asy Syafi'i dan Ahmad, dan kebanyakan fuqaha radhiallahu 'anhum ajma'in. Allah Ta'ala berfirman: 'Saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan (QS. Al Maidah:2) Ayat-ayat dengan makna seperti yang saya sebutkan sangat banyak dan telah diketahui"
Manfaat Bergaul dengan Manusia
- Belajar Mengajar
- Mengambil dan Memberi manfaat
- Melatih diri sendiri dan membimbing orang lain
- Mendapat pahala dan membuat orang lain mendapat pahala
- Tawadhu
Jumat, November 06, 2009
Yang paling lelah, yang paling mulia tuntutannya
Sesungguhnya yang dapat mengantarkan da'i kepada tujuannya, hanyalah kecintaan yang sangat kuat kepada dakwah, dan iman serta kepuasannya kepada misi dakwahnya. Dia larut dengannya, dan menekuninya dengan segala bakat, kemampuan dan sarana yang dimilikinya.
Inilah syarat pokok dan ciri khas utama yang harus dimiliki setiap da'i.
Tidak terbelokkan dari tujuannya, oleh kecaman orang yang mengecam.
Banyak diam.
Pikiran yang terus bekerja.
Tidak terbujuk pujian yang menyenangkan,
tidak berhenti karena celaan yang menyakitkan.
Tidak pernah gentar terhadap berbagai halangan yang merintang.
Sabar menjadi motonya.
Kelelahan menjadi kepuasannya.
Oleh karena itu, petaka bagi seorang da'i, bukan hanya perlawanan orang-orang kafir.
Bukan karena ia dipenjara, disiksa, dibiarkan kelaparn.
Petaka sesungguhnya bagi seorang da'i dan muharrik adalah kelemahan cita-cita dan kesenangannya kepada kesantaian.
Petaka sesungguhnya bagi seorang da'i adalah kesia-siaan, kelalaian dan kekosongan waktu.
Sabtu, Februari 07, 2009
Kata dan Sejarah
Tetapi muatan pikiran yang kuat saja tidak cukup, diperlukan faktor lain yaitu kekuatan keyakinan. Keyakinan yang berupa emosi menggelora dan membuatnya seperti api yang membara atau gelombang yang membadai. Itulah yang membuat setiap jiwa yang berdiri di hadapannya terpesona dan semua akal yang menantangnya luruh tertunduk oleh kekuatan logikanya.
Jadi pemikiran adalah bagaikan air yang mengisi kendi kata-kata, sedangkan keyakinan dan emosi bagaikan ruh yang memberi kehidupan kepada kata itu. Maka ada kata yang lahir dan langsung mati, karena ia tidak memiliki ruh, walau terbalut dengan ribuan hiasan. Ada pula kata yang hidup abadi dalam sejarah, walau tampak sederhana, karena ia lahir dengan membawa ruh kehidupan.
Itulah sebabnya, kata merupakan salh satu indikator yang paling akurat untuk mengukur kadar keluasan wawasan dan kedalaman pengetahuan seseorang di satu sisi dan di sisi yang lain, warna dan jenis kepribadiannya.
Sumber kutipan:
"Pengantar: Tokoh, Kata dan Sejarah" oleh Anis Matta, dalam buku Haditsu Tsulasa oleh Ahmad Isa 'Asyur.
Minggu, Desember 14, 2008
Makna Kata
Majalah Tarbawi edisi bulan ini memberikan ulasan editorial, biasa disebut sebagai khotorot, dengan "Mencari Makna". Lebih kepada makna optimisme.
Optimisme kadang lebih soal makna. Bagaimana kita mencari arti positif di balik berbagai hal. Fenomena maupun fakta selalu punya realitasnya yang nyata. Seperti krisis adalah krisis. Gejolak ekonomi adalah gejolak ekonomi. Politik adalah politik.
Tapi, kita bisa mengasi makna-makna optimis di balik semua itu. Meski dengan usay payah. Maka krisis bisa juga bermakna pemicu kreatifitas. Gejolak ekonomi global adalah kesadaran akan ketidaksempurnaan manusia. Politik bisa juga artinya kompetisi pelayanan. Begitu seterusnya. Itu semua sangat tergantung kepada kemauan dan kemampuan kita menggali makna-makna.
...
Optimisme kadang lebih soal makna. ... Harga minyak yang turun, benar-benar fantastis. Pialang minyak yang telah bermandi uang, sekarang pusing. Sedangkan pengguna kendaraan seharusnya menikmatinya.
Optimisme kadang lebih soal makna. Makna saja tidak cukup, memang. Perlu tindakan berlanjut. Sebab ia baru permulaan. Tapi setiap permulaan bisa sangat menentukan. Dan, makna positif adalah modal awal yang baik. Sebab tanpa makna awal yang benar, fakta-fakta tidak bisa mengubah banyak hal.
Optimisme kadang lebih soal makna. Saat jutaan orang Mukmin berkumpul di Arafah, dalam segala letih dan lelah, nun jauh dari berbagai penjuru, ada berjuta makna. Pasti, satu di antara makna-makna itu adalah optimisme bersama Allah Yang Maha Memberi harapan.
Rabu, Oktober 29, 2008
Indonesiaku Besar Sekali
Saudaraku sekalian,
Negeri sebesar Indonesia ini, bukan hanya membutuhkan orang besar, tetapi juga membutuhkan otak besar untuk mengaturnya. Kalau kita datang tidak dengan otak besar seperti itu, niscaya kita tidak akan bisa mengatur negeri ini. Otak besar itu memiliki ide-ide besar. Ruang visibilitynya besar. Sebereapa besar ruang kemungkinan itu tergantung kepada seberapa besar ide-ide kita. Kalau kita itu ide-ide-nya kecil, maka besaran tindakan kita juga kecil. Namun kalau kita punya ide-ide besar, maka besaran tindakan kita juga besar.
Sebuah bangsa atau sebuah komunitas, akan menjadi besar, jika dia pada dasarnya mempunyai ide-ide besar. Coba lihat kenapa Imam Hasan Al-Banna itu dakwahnya tidak mati-mati walaupun dia sudah mati. Karena ruang visibility dari dakwahnya itu sangat luas. Yang tujuan akhirnya tidak akan tercapai oleh harakah dakwah di Mesir. Karena tujuannya akhirnya adalah ustadziyatul 'alam, soko guru dunia.
Begitu kita menetapkan satu tujuan akhir yang sangat besar seperti itu, maka kita menerapkan ruang visibility, ruang kemungkinan yang harus lebih besar. Oleh karenanya derivasinya adalah alwajibatu aktsaru minal auqat, kewajiban itu lebih banyak dari waktu (yang tersedia). Tiba-tiba stok waktu kita tidak cukup untuk menyelesaikan tugas-tugas besar seperti itu. Dala suatu waktu tiba-tiba kita bertemu dengan kaidah umru dakwati athwalu min a'malina, umur dakwah itu lebih panjang daripada umur-umur kita semuanya, karena ruang visibility-nya tadi.
Selasa, September 23, 2008
Mata Rantai Maksiyat
Tahukah Anda, bahwa setelah kita asyik berghibah, maka kita akan tergoda untuk lebih jauh daripada itu, yaitu memfitnah.
Kemudian berikutnya adalah tajassus, kemudian bermusuhan, melakukan tipu-muslihat, kemudian bertengkar.
Tahukah Anda, saat bertengkar, maka akan bermunculanlah ratusan maksiyat lainnya.
Puncak daripada itu semua adalah rusaknya ukhuwwah. Padahal ukhuwwah adalah wajib.
6 Puasa Khusus
Mendekati hari terakhir puasa Ramadhon, seharusnya kita, kaum muslimin semakin rajin beribadah. Semakin rajin tilawah, semakin rajin 'itikaf. Tetapi beberapa gangguan semakin banyak. Tidak hanya persiapan lebaran, tetapi juga persiapan mudik. Tidak hanya tontonan di rumah--TV--, tetapi juga tontonan di jalan, di mall dan lain-lain.
Padahal contoh dari Rasulullah saw, yang kita ketahui dari para salafushsholeh, mereka semakin rajin beribadah. Tidak hanya sekedar puasa menahan lapar dan dahaga, tetapi lebih daripada itu.
Menurut imam Ghazali rahimahullah, ada puasa yang lebih khusus, dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang khusus. Maksudnya orang kebanyakan sulit melakukannya.
1. Puasa menahan pandangan, dari memandang hal-hal yang makruh, apalagi yang haram.
2. Puasa menahan lidah, dari mengeluarkan kata-kata yang bodoh dan menyebabkan kita masuk neraka.
3. Puasa menahan pendengaran dari mendengar hal-hal yang makruh-haram
4. Puasa menahan seluruh anggota badan
5. Puasa menahan diri untuk tidak makan berlebihan saat berbuka
6. Puasa dengan rasa takut dan harap saat berbuka. Takut khawatir puasanya tidak diterima, dan harap agar kita dimasukkan oleh Allah SWT sebagai muqorrabin.
Minggu, Desember 30, 2007
Kita antara kemampuan dan pilihan
Hidup adalah pilihan. Pilihan yang tepat kadang-kala tidak selalu benar. Yang benar kadang-kala diluar kemampuan kita. Oleh karena itu kapabilitas tidak dapat menjadi parameter utama yang mempengaruhi tindakan kita. Sebab tidak adanya kemampuan akan membatasi pilihan-pilihan kita. Sebaliknya, kita dapat saja memiliki kemampuan, tetapi kita memilih jalan lain. Jadi pilihan kitalah yang menentukan.
Seseorang tidak akan melakukan maksiyat bila tidak ada kemauan-kemampuan-kesempatan. Kesempatan itu takdir dari Allah SWT. Paling-paling kita mengusahakan kesempatan. Tetapi ada tidaknya kesempatan itu kembali kepada takdir Allah SWT. Sedangkan kemampuan adalah akumulasi pemahaman-pelatihan-pengalaman yang telah kita lewati selama ini. Jadi muncul-nya tidak tiba-tiba. Kemauan atau pilihan, adalah semacam katup bagi air yang mengalir, ia adalah pintu. Ia adalah nurani kita yang membolehkan kemampuan keluar menggapai kesempatan. Ia adalah kesadaran jiwa atau dorongan syahwat. Disitulah manusia ditanya pertanggung-jawabannya.
Senin, Oktober 30, 2006
Ahli dalam segala bidang, kecuali pada Tupoksi-nya
"Tipikal orang-orang kita, (ingin) ahli dalam semua bidang, kecuali tugas dan fungsi pokoknya"
Pernyataan tersebut ada banyak benarnya. Anda akan banyak temui di tempat-tempat ngobrol, mangkal para "ahli" kita tersebut. Maka semua hal akan bisa diobrolkan, kecuali kalau sudah menjurus kepada "core competence" pembicara. Bila sudah pada tema tersebut, maka perkataannya menjadi sulit dimengerti, bahasa alien pasti banyak keluar. Slogan "kalo bisa dipersulit kenapa musti dipermudah", ternyata tidak saja menjangkiti kalangan birokrat dan layanan masyarakat saja, tetapi sudah mendarah daging sampai ke ujung lidah kita.
Semakin mudah penjelasan seseorang untuk hal-hal yang sulit, itu menunjukkan kepahamannya yang mendalam. Ia dapat menggambarkan tema tersebut seseuai dengan latar belakang, pemikiran dan budaya pendengarnya. Kepahamannya tidak saja mengenai tema yang dibicarakan, tetapi juga kepahamannya tentang pendengarnya.
Kita cenderung menjadi generalis, dan takut menjadi spesialis. Karena memang semakin spesifik bidang kita, maka semakin sempit pasar kita. Tetapi jangan lupa, semakin mahal harga kita :-)
Ahli yang tidak Ahli
Bukan berarti pembicara tidak kompeten dibidang itu (meskipun itu juga sebab), tetapi lebih kepada tidak mampunya pembicara membahasakan apa yang ia ingin sampaikan kepada pendengar.
"mengapa suatu presentasi tidak komunikatif terhadap pendengar?"
Masalah ini sebenarnya adalah masalah klasik, dimana seorang ahli kesulitan untuk membagi pengetahuannya kepada awam.
Sebab pertama adalah, para ahli belum dapat mengungkapkan tema pembicaraan itu sesuai dengan kapasitas pengetahuan para awam, yaitu belum dapat "membahasakan" tema tersebut dalam bahasa awam.
Kenapa hal ini terjadi, padahal awalnya ahli juga awam terhadap tema tersebut. Seorang ahli pastilah mengalami masa-masa dimana ia berjuang keras mencoba mengerti tema tersebut. Nah, permasalahannya ... saat ia menjadi ahli, beberapa "sejarah" dalam otaknya/benaknya tentang masa-masa awal itu telah hilang, tergantikan dengan pengetahuan-pengetahuan baru yang ia dapatkan.
Intinya, ia kehilangan sejarah "detail rantai information gap" yang menjembatani antara pengetahuan ahli dg pengetahuan awam. Ia hanya dapat mengetahui secara global rantai information gap yang dimaksud.
Ibarat orang naik gunung asing baginya, maka saat ia mencapai puncak, ia dapat saja memberitahu rekannya (yang masih dibawah) "secara global" bagaimana cara mencapai puncak. Tetapi tentu saja detail-detail ada berapa semak-semak atau duri-duri jalanan yang harus dihindari kapan dan dimana .... tidak dapat dijelaskan ... karena ia lupa.
Hal ini sering kali terjadi pada kita. Kita seringkali mengalami kesulitan menjelaskan sesuatu kepada orang awam. Bukan berarti kita tidak mengetahui masalahnya (meskipun pemahaman yang kurang mendalam juga menjadi sebab lain :-). Karena pada saat kita ngobrol dengan sesama ahli, obrolan terasa gurih dan nikmat, yang itu artinya kita nggak ketinggalan banget, masih nyambung.
Nah bagaimana solusinya?
Pertama, sering-sering mengajarkannya/mengungkapkannya kepada orang awam. Maka "jam terbang" akan meningkatkan kemampuan kita membahasakan suatu tema rumit menjadi mudah. Sebab semakin sering kita melakukan itu, pada dasarnya semakin sering pula kita "mencoba menemukan kembali detail rantai informasi gap" yang telah kita lalui, sehingga kita menjadi ahli seperti sekarang ini.
Oleh karena itu, salah seorang presenter/guru/penulis (saya lupa namanya) pernah memberikan tips bahwa kita harus senantiasa belajar menjelaskannya kepada anak kecil.
Solusi kedua adalah mencoba mendalami lebih dalam lagi fenomena/ilmu tersebut sehingga kita dapat memodelkannya dengan sangat sederhana.
Dari beberapa penelitian, seorang programmer senior lebih berfikir abstrak, dan programmer yunior lebih berfikir konkret atau di level syntax. Begitu pula di bidang-bidang lain. Ahli lebih filosofis/abstrak, awam lebih pragmatis/konkret.
Oleh karenanya, penjelasan seorang begawan sering kali mudah, singkat tetapi mencakup seluruh makna yang dimaksud. Sedangkan penjelasan seorang pemula seringkali bertele-tele, karena ia belum dapat menemukan "intisari" dari apa yang harus ia jelaskan.
Kamis, Juli 27, 2006
Kelemahan adalah Kekuatan
"ketahuilah, takdir itu tidak berjalan menurut rencana kita, bahkan kebanyakan yang terjadi adalah apa yang tidak kita rencanakan, dan sedikit sekali terjadi apa yang kita rencanakan"
(Ibnu Athoillah)
"Kekuatanku adalah kelemahanku"
(Badi'uzzaman Sain an-Nursy)
Begitu banyak peristiwa yang mengajarkan, bagaimana pun tinggi derajat seorang manusia baik di sisi manusia lainnya, maupun di sisi Allah SWT, ia tidak terlepas dari ancaman kesulitan dan problem.
Pada saat diri telah sampai batas, batas prasangka kita. Maka diri mulai menyerah.
Pada saat kelemahan begitu jelas, diantara sengal nafas kepayahan dan kecemasan, maka disaat itulah kedekatan dan kepasrahan semakin kuat,dan semakin total kepada Zat Penguasa Alam, Sang Maha Kuasa.
Tetapi pada saat itulah, saat kepasrahan total tercapai, sandaran pada Allah semakin kuat, dan suplay tenaga dan keyakinan itu bertambah, maka datanglah pertolongan Allah.
Oleh karena itu Sodaraku, ...
teruslah berjoeang.
(dicuplik sebagian dari "Mencari Mutiara di Dasar Hati", M. Nursani, Tarbawi)
Selasa, Februari 14, 2006
Ar-Rasyid: Kuburan Kita Yang Membisu
Manusia tenggelam dalam kelalaiannya,
Padahal roda kematian terus bergulir
Abu Darda’ tertawa.
Abu Darda’ heran menyaksikan gambaran kehidupan manusia
Abu Darda’ melihat celah-celah kelalaian
sebagai akibat dari parahnya ketamakan kepada dunia
yang menghalangi kesudahan yang mengerikan
yang menuai orang-orang lain disekitarnya
Padahal mereka tidak memiliki sedikit jaminan pun
Untuk menolak kesudahan yang mengerikan itu
Seandainya maut datang kepada mereka
Sebagaimana maut telah mendatangi orang-orang lain
Abu Darda penyayang, merasa kasihan
Rasa kasih sayang itu menggerakkannya untuk mencolek
Bahu orang itu dengan telunjuknya seraya mengatakan
Kasihan kamu,
Bagaimanakah dengan kamu
Bila telah dilakukan penggalian
Seluas empat hasta buat kamu
Hari Penuaian
Engkau tiada lain seperti tanaman
Yang telah menghijau
Saat itu engkau menjadi tujuan
Dari semua hama dan penyakit
Jika engkau selamat dari semua penyakit itu
Maka dipuncak usiamu itu
Engkau akan dituai
Yaitu dihari pekikan.
Ketika kening berkeringat
dan rintihan tidak pernah berhenti
saat nyawa berada dikerongkongan
saat seluruh tubuh menjadi dingin
saat rasa sakit kematian menguasai diri
tubuh melemah dan
pecahlah tangisan kaum perempuan
Mereka menangisimu karena sedih akan ditinggalkan olehmu
Dengan tangisan yang memilukan hati
Rintihan mereka bersahut-sahutan
Dan mereka mencurahkan air matanya
Bagaikan hujan yang lebat
Kemudian datanglah orang-orang yang menyingkirkan mereka
Untuk memandikanmu dengan segera
Mereka memandikanmu dengan segera dan tidak sabar.
Bila orang yang membawa air terlambat, mereka berseru
“Cepatlah! Kami mempunyai kesibukan yang lain!”
Maka janganlah engkau melupakan hari yang di saat itu
Engkau dibaringkan di atas kerandamu
Diusung oleh sekelompok orang di atas pundak mereka
Jika engkau saleh,
Saat itu engkau bergembira
Memekikkan kesenangan seraya berkata
“Dahulukan aku, dahulukanlah aku!”
Jika engkau tidak baik,
“Celakalah jenazahku,
kemanakah mereka hendak membawaku!”
Suaranya terdengar oleh segala sesuatu
Kecuali manusia.
Seandainya manusia dapat mendengarnya
Niscaya ia pingsan.
Hari tidur panjang
Ketika kedua malaikat mulai menanyaimu.
Baik bila engkau dulu baik.
Siksa bila engkau dulu durhaka.
Dan ulat-ulat terbangun oleh jeritanmu itu
Dan mereka mulai melakukan serangannya
Letakkanlah pipiku ke liang lahatku
Letakkanlah tubuhku
Dan baringkanlah ia pada tanah yang kotor
Bukakanlah kain kafan dari wajahnya
Dan tanamkanlah ia sedalam-dalamnya
Di dalam tanah
Jika kalian melihatnya setelah tiga hari
Niscaya kalian tidak akan mengenalnya
Bola matanya telah keluar
Dari kelopaknya ke pipinya
Dan kalian tidak mau menerimanya
Di sana hanyalah keheningan yang sempurna
Diiringi suara tiupan angin di atas gundukan tanah
Yang membisu.
Bila ada orang bertanya kepada kalian
Bagian manakah dari kedua pipimu yagn mulai hancur
Dan yang manakah di antara kedua matamu yang mulai membusuk?
Satu kuburan menjawab
Tiada yang tersisa selain dari batok kepalanya yang telanjang
Putih kelihatannya dan tulang yang telah rapuh
Kuburan lain menjawab
Mereka tidak dapat mengusir ulat-ulat itu dari wajahnya
Seakan-akan mereka bagaikan batang kayu
Yang tergeletak di dalam tanah
Atau suara kuburan lainnya
Mereka tidur dan tiada yang menyelimuti tubuhnya
Selain tanah
Dan tiada kemah yang menutupi tubunya
Selain kuburan
Sesungguhnya mereka telah kenyang makan
Dan telah hidup senang semasa hidupnya
Dan kini
Sesudah mereka lama makan dan bersenang-senang
Tibalah giliran mereka untuk dimakan
Wahai ahli kubur yang aku cintai
Sesudah masa senang dan gembira
Sesudah masa kesuburan dan kemakmuran
Dan sesudah masa senang dan hidup lapang
Sesudah ditemani oleh wanita-wanita cantik
Lagi menyenangkan
Dan sesudah ditemani oleh wanita-wanita pingitan
Kini kalian berada di dalam tanah
Di antara lapisan tanah dan bebatuannya.
Menunggu waktu yang sangat menakutkan
Yaitu waktu hisab dan catatan amal
Saudaraku, kematian adalah awal dari kehidupan abadi,
Bukan akhir dari segalanya.
Kematian adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya.
Sedangkan dunia ini adalah waktu persiapan.
Saudaraku, bersegeralah mempersiapkan bekal
Bekal untuk perjalanan yang panjang dan abadi.
(disadur dari: Kuburan Kita Yang Membisu, Pelembut Hati (Ar-Raqaiq), Muhammad Ahmad Ar-Rasyid)
Rabu, Desember 14, 2005
Andai Para Raja Itu Tahu ...
Andai para raja itu tahu kebahagiaan yang kami miliki, pastilah mereka rebut kebahagiaan kami itu dengan pedang-pedang mereka ....
Ungkapan seorang seorang ulama salafush-sholeh (kalau tidak salah Ibnu Taimiyah), mengomentari beberapa gangguan pemerintah terhadap perjuangan beliau. Perjuangan menegakkan dienul Islam, yang mengakibatkan beliau di penjara dan diusir.
Kehidupan bagaikan sebuah perjalanan. Ada awal, istirahat dan akhir. Kehidupan kita didunia ini bagaikan saat dimana seorang musafir istirahat sesaat dibawah rindangnya pohon, yang kemudian segera akan ia tinggalkan untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Hiduplah engkau di dunia, seperti orang asing, atau orang yang dalam perjalanan. Orang asing yang selalu hati-hati. Sebab, ia belum paham betul seluk beluk wilayah. Waspada terhadap segala kemungkinan buruk, berupa lobang-lobang dijalanan, duri yang bertebaran, salah jalan dan salah kendaraan.
Maka kehidupan yang paling baik dan indah, bilamana kita mempersiapkan untuk sisa hidup kita kelak. Bukan yang lalu dan bukan yang sekarang, tetapi untuk yang kemudian.
Seorang syaikh dakwah, Muhammad Ahmad Rasyid, mengobarkan kembali konsep Firasatilah dirimu, dimana setiap amal ketaatan akan menurunkan rahmat dan barakah Allah, dan sebaliknya setiap maksiyat atau meninggalkan ketaatan akan menurunkan azab Allah. Seringkali kita tidak merasakan azab dan balasan Allah tersebut, karena telah begitu kerasnya hati kita dan telah tertutupnya telinga kita. Firasati dirimu, yaitu dengan terus muhasabah, bahwa segala ujian yang telah kita rasakan saat ini, adalah akibat dari kita tadi atau kemarin telah bermaksiyat dan meninggalkan ketaatan. Firasati dirimu, dan bersegeralah bertaubat. Karena ketergelinciran haruslah disikapi dengan taubat. Mencari sebab kaki tergelincir, berazam tidak mengulangi kekeliruan dan lebih berhati-hati pada langkah selanjutnya.
Kehidupan dengan orientasi masa akhirat, melahirkan kenikmatan pada amal ketaatan. Dan sesungguhnya kelelahan karena melakukan ketaatan lebih disukai para salafush-sholeh kita. Lalu mengapa diri kita hanya memiliki tenaga dan waktu sisa untuk ketaatan.
Andai para raja itu tahu kebahagiaan yang kami miliki, pastilah mereka rebut kebahagiaan kami itu dengan pedang-pedang mereka ....
Senin, Desember 05, 2005
Niku Guru Kulo
Saya begitu terpengaruh dengan ucapan kakek itu terakhir sebelum turun panggung. "Masio isik enom, niku guru kulo." Meski masih muda (dari saya), beliau itu guru saya. Bagi saya, itu kalimat sederhana yang sarat makna dan tata-krama.
Betapa tidak? Kakek itu sampai detik ini masih menyebut "guru" kepada ustadz yang dulu, dulu sekali, pernah mengajarinya mengaji. Ia tidak menyebutnya dengan "mantan guru", "pernah jadi guru", apalagi "bekas guru." Ia tetap menyebutnya "guru", meski ia sendiri sudah tidak muda lagi.
Ini menunjukkan tata-krama yang luar biasa terhadap orang yang pernah berjasa membuat kita dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti. Dari bodoh menjadi pandai. Siapa saja. Bahkan Ali bin Abi Thalib r.a. pernah mengatakan bahwa siapa saja yang pernah mengajari kita, meski hanya satu huruf, adalah guru kita. Mungkin musuh kita adalah guru kita juga. Boleh jadi.
Selengkapnya baca di Kolom Oase, EraMuslim.Com 1 Desember 2005
Rabu, November 09, 2005
Madrasah Kematian ar-Rasyid
"Kehidupan ini memang disukai oleh orang yang mempunyai ghirah (kecemburuan) dan sangat khawatir menghadapi kematiannya, karena kematian akan menjadi penghalang baginya untuk melakukan pelayanan kepada kaum muslimin dan menegakkan urusan dakwah Islam"
Rabu, Juli 20, 2005
"Ungkapan Perasaanmu, Nak!"
"Ungkapkan Perasaanmu, Nak"
Mengungkapkan perasaan adalah kemampuan komunikasi yang sangat esensial. Perasaan atau emosi adalah sebuah reaksi dalam diri seseorang terhadap keadaan, situasi, atau apapun yang dapat berakibat kepada otak dan fisik. Latihan berbagi perasan dan menyalurkannya dengan tepat, oleh karenanya menjadi sangat penting. Latihan berbagi perasaan dapat dimulai dengan mengenali perasaan, menamainya dan mencari jalan keluar. Anak dapat dilatih mengenali perasaannya dengan bantuan orang tua.
Selasa, Juli 12, 2005
Syaikhut Tarbiyah dalam Asasiyat Tarbawi
(Rahmat Abdullah, "Zu Qou Ghu", kolom Asasiyat, Tarbawi, 62)
Itulah yang harus kita tumbuhkan dalam diri kita. Selanjutnya ia akan semakin mantap bila terus dijaga dalam bingkai istiqomah (tetap teguh dalam pendirian).
Tentang istiqomah, ust. Rahmat mengatakan, "Ia dalah gerak yang tak kenal henti. Ia adalah keteguhan yang tak kenal menyerah,. Ia adalah bukti kejujuran pengakuan siapa pun yang mengaku bertuhan Allah."
("Istirahat", kolom Asasiyat, Tarbawi, 52)
Istiqomah yang dimaksud adalah istiqomah dengan petujuk Al-Quran dan As-Sunnah.
Dan memang begitulah seorang pejuang mukmin sejati mesti menata langkah-langkah hidupnya, dengan prinsip bertumbuh sepanjang hayatnya. Dengan itu kepekaan terasah, tujuan akhir terpelihara, dan godaan-godaan tengah jalan bisa ditepis.
"Janganlah lihat hidup dari fenomena-fenomena, lihatlah dari hakekat. Kecuali keresahan hati dan kekakuan sikap yang tak pandai kau cairkan, selebihnya adalah senandung nasib yang kau boleh rintihkan bagi zaman sesudahmu atau jadikan itu sebagai khazanah doa yangakan kau panen di hari esok."
(Rahmat Abdullah, "Cucu Musholla", kolom Asasiyat, Tarbawi, 63)
"Mengejar ketertinggalan, sudh waktunya redaksi semacam ini dihapuskan selama-lamanya. Sangat melelahkan mengejar ketertinggalan yang tak pernah punya toleransi menunggu. Mengapa harus dikejar, kalau bisa dicegat sebelum datang? Atau diidentifikasi apakah sesuatu itu benar-benar ketertinggalan? Generasi awal dididik untuk tidak pernah merasa tertinggal, walaupun berbagai sumber daya penopang sistem kufur telah begitu kokoh. Kejelasan visi, kepastian langkah, keikhlasan pemimpin, ketaatan kader, dan kesungguhan berkorban semua pihak telah membuat kejutan-kejutan yang menyebabkan musuh merasa terkejar dan tertinggal."
(Rahmat Abdullah, "Desah-desak kapan pertolongan Allah", Asasiyat Tarbawi, 47)
"Biarlah harapan tetap tersisa pada berkah agung yang jerih payahnya selalu tertebus dengan kejayaan. Jangan lagi si jahil (bodoh) mengalamatkan seluruh bencana ini kepada risalahnya dan mengadreskan seluruh kedamaian pada lawan-lawannya. Mungkin ini harapan sederhana seorang fanatikus yang sangat mendalam sangka baiknya kepada keadilan-Nya, karena jalan masih selalu terbentang"
(Rahmat Abdullah, "Ummatku", kolom Asasiyat, Tarbawi, 60)
Grup Knowledge Management PDII-LIPI
Saya sendiri termasuk baru bergabung dalam grup ini. Grup ini telah memulai penelitian KM sejak 2 tahun yang lalu. Dengan memakai studi kasus Jambu Mente, Grup KM PDII telah berhasil membuat sebuah prototype sistem KM.
Sejak akhir tahun lalu (2004), saya mulai bergabung dengan tim ini, membantu khusus dibidang IT. Namun, tetap bagi saya, KM masih merupakan bidang amat baru. Meskipun telah saya kenal sejak lama, tetapi saya tidak pernah berhubungan langsung dengan bidang ini, baik dalam penelitian maupun pekerjaan.
Oleh karena itu saya ucapkan terim kasih kepada tim KM PDII-LIPI, yang telah mengajak saya bergabung. Berbeda dengan tim-tim proyek lainnya, saya merasakan dinamika eksplorasi ilmu dan sharing ide dalam tim ini. Pada awalnya saya beranggapan, bahwa KM ya itu-itu saja. Dalam artian, tema ini sudah sejak lama diusung orang, tetapi antara ide/teori dan implementasi, sungguh sangat jauh. Bahkan sekarang pun masih seperti itu. Tetapi dinamika dalam tim itulah yang membuat saya tetap bertahan di dalamnya.