Wednesday, September 18, 2013

Pandai saja tidak cukup, perlu juga menarik

Banyak orang yang sangat pandai, tetapi sama sekali tidak menarik. Pandai saja tidak cukup. Kepandaian seolah-olah adalah tenaga mobil dan pemikiran adalah ketrampilan mengemudikan mobil. Ada mobil yang bertenaga besar, tetapi dikemudikan dengan cara buruk. Ada juga mobil bertenaga kecil, tetapi dikemudikan dengan sangat baik. Sebagian orang yang sangat pandai, hanya pandai dibidang mereka saja. Mereka telah mempelajari idiom-idiom di bidang mereka, tetapi tidak memiliki ketrampilan berfikir yang lebih luas. Sehingga ketika mereka berbicara kepada Anda, mereka hanya peduli dengan diri mereka, tidak menarik bagi kita. Apa yang mereka katakan, tidak dapat kita pahami dengan baik. Seakan-akan mereka hanya memberikan buku kepada kita, dan kita diminta untuk mencernanya sendiri. Tidak ada interaksi. Mereka, para orang pandai yang seperti itu, terjebak dalam "perangkap intelejensi". Tidak sedikit dari mereka, orang-orang pandai, yang tidak dapat menularkan kepandaiannya, karena perangkap ini. Mereka lupa bahwa orang dihadapannya belum tentu sepandai mereka. Mereka telah lupa, bahwa mereka pernah bodoh dan telah melalui beragam rintangan hingga mencapai kepandaian yang sekarang. Mereka telah lupa bagaimana caranya menjadi sepandai sekarang dan mereka tidak peduli. Sehingga mereka tidak tahu bagaimana membuat apa yang ingin mereka sampaikan menarik. Alih-alih menarik, justru menjadi rumit, dan orang tidak tertarik untuk mengikuti pembicaraan mereka.

Thursday, November 10, 2011

Faktor pembeda generasi sahabat dan generasi sekarang

Allah SWT telah menciptakan generasi unik, generasi da'i yang telah menjadi pasukan pertama masyarakat Islam. Tidak dapat dipungkiri keunikan, keistimewaan dan kedahsyatan mereka tidak tertandingi sampai kini. Merekalah generasi sahabat ridhwanullah 'alaihim. Lalu apa yang membedakan mereka dengan generasi sesudahnya?

  1. Faktor pertama adalah kesucian dan kebersihan mereka -- generasi sahabat -- dari pengaruh di luar Al-Qur'an. Satu-satunya sumber seluruh kehidupan mereka adalah Al-Qur'an - Kitabullah semata. Adapun sabda-sabda dan petunjuk Rasulullah SAW adalah konsekuensi dari Al-Qur'an. Sedangkan generasi sesudahnya, menjadikan sumber lain sebagai tambahan referensi kehidupan mereka. Terjadi alkulturasi antara sumber Al-Qur'an dan sumber diluar Islam. Ajaran filsafat Yunani beserta ilmu logikanya, mitos-mitos Persia, israilliyat Yahudi, teologi Nasrani, peradaban Kejawen dst. Semua beralkulturasi dengan penafsiran Al-Qur'an. Referensi yang telah "terkontaminasi" tersebut kemudian dipelajari oleh generasi-generasi sesudahnya.
  2. Faktor kedua adalah ketidaksamaan dalam metode pembelajaran. Generasi pelopor, mempelajari Al-Qur'an untuk mengamalkannya. Mereka menerima Al-Qur'an sebagaimana menerima perintah harian yang harus dikerjakan seketika itu juga, sebagaimana prajurit menerima perintah dari komandannya. Oleh karenanya, tak ada seorang pun sahabat Nabi yang meminta banyak-banyak penyampaian Al-Qur'an pada satu majelis, karena hal itu hanya akan menambah kewajiban-kewajiban dan aturan-aturan agama yang membebani mereka. Kesadaran menerima ilmu untuk mengamalkan itulah yang membuat mereka menjadi generasi yang unik. Sedangkan generasi setelahnya, mempelajari Al-Qur'an dan ilmu-ilmu turunannya, sebagai pemenuhan kepuasan akademik, hobi, atau untuk memenuhi perbendaharaan kosa-kata mereka. Al-Qur'an tidaklah hadir sebagai sebuah kitab yang memperkaya akal, tidak pula rujukan sastra dan seni, apalagi kita dongeng dan sejarah -- meskipun itu semua tercakup  didalamnya. Al-Qur'an turun untuk menjadi pedoman hidup (way of live). 
  3. Faktor ketiga adalah totalitas. Generasi pelopor masuk Islam secara totalitas. Tatkala mereka masuk Islam, berarti harus meninggalkan kesesatannya, yakni semua yang dilakukannya semasa jahiliyyah. Ia masuk dengan "komitmen baru". Ada pemisahan kesadaran (uzlah syu'uriyyah) secara penuh antara masa silam seorang Muslim dalam kejahiliyyahannya dengan masa kininya dalam Islam. Kita sekarang berada dalam kejahiliyyahan sebagaimana masa awal Islam, atau bahkan lebih dahsyat lagi.Tetapi kita tidak dapat totalitas dalam ber-Islam. Di satu saat kita menjalankan Islam, di saat lain kita melakukan kejahiliyyahan. 
(sumber Ma'alim Fit Thoriq, Sayyid Quthb)

Thursday, July 01, 2010

Ghuroba tapi Gaul

Islam bermula dalam keadaan asing (gharib), dan akan kembali dianggap asing sebagaimana bermula. Maka beruntunglah orang-orang asing itu (ghuraba). (HR. Imam Muslim dari Abu Hurairah)


Diriwayatkan Imam Thabrani dari Sahl ra., Rasulullah saw ditanya, "Siapakah Ghuraba itu ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "yaitu orang-orang yang melakukan perbaikan ketika orang-orang lain rusak."


Syaikh Saad Al Ghamidi seorang kader Al-Ikhwanul Al-Muslimun, munsyid, hafizh, dan qari terkenal, berkata dalam intro nasyid Arab yang sangat terkenal di kalangan aktivis harakah tahun 90-an berjudul Ghuraba yang dilantukannya sendiri dalam album Ad-Damaam 2:

Bukanlah oran gasing yang berpisah dari negerinya. 
Tetapi orang asing itu adalah orang yang 
melihat manusia di sekitarnya bermain-main,
ia membangunkan manusia disekitarnya yang tertidur,
dan ia di atas jalan kebaikan
ketika manusia di sekitarnya terbawa kesesatan


Ya gharib bukan uzlah, mereka terasing di sisi manusia laksana terpenjara, tetapi ia mulia di sisi Rabb mereka. Bukan orang yang uzlah, yaitu yang mengasingkan diri secara fisik, menjauhi kampung halamannya, lari dari masyarakatnya, bukan masyarakat yang menjauhinya.


Iman an Nawawi dalam kitabnya yang terkenal, Riyadhus Shalihin, membuat bab yang panjang berjudul, Keutamaan berbaur dengan manusia dan menghadiri perkumpulan dan jamaah mereka, menyaksikan kebaikan dan majlis dzikir bersama mereka, menjenguk orang sakit, dan mengurus jenazah mereka. Memenuhi kebutuhan mereka, membimbing kebodohan mereka dan lain-lain berupa kemaslahatan bagi mereka, bagi siapa saja yang mampu untuk amar ma'ruf nahi munkar, dan menahan dirinya untuk menyakiti, serta bersabar ketika disakiti.


Imam an Nawawi berkata, dalam Riyadhus Shalihin, "ketahuilah, bergaul dengan manusia dengan cara seperti itu yang saya sebutkan, adalah jalan yang dipilih oleh Rasulullah saw, dan seluruh Nabi shalawatullahu wa salamuhu 'alaihim, demikian pula yang ditempuh oleh Khulafa'ur Rasyidin dan orang-orang setelah mereka dari kalangan sahabat, tabi'in, dan orang setelah mereka dari kalangan ulama Islam dan orang-orang pilihannya. Inilah madzhab kebanyakan dari tabi'in dan orang-orang setelah mereka, ini pula pendapat Asy Syafi'i dan Ahmad, dan kebanyakan fuqaha radhiallahu 'anhum ajma'in. Allah Ta'ala berfirman: 'Saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan (QS. Al Maidah:2) Ayat-ayat dengan makna seperti yang saya sebutkan sangat banyak dan telah diketahui"


Manfaat Bergaul dengan Manusia

  1. Belajar Mengajar
  2. Mengambil dan Memberi manfaat
  3. Melatih diri sendiri dan membimbing orang lain
  4. Mendapat pahala dan membuat orang lain mendapat pahala
  5. Tawadhu
(di sarikan dari tulisan Ust. Farid Nu'man, Al-Intima no. 006)

Monday, May 24, 2010

Trust & Reward System: Diskusi KM PDII-ITB Mei 2010

Untuk sekian kalinya, pengelolaan KM di institusi mengambil kesimpulan bahwa faktor SDM dan hubungan personal di dalamnya mengambil peran penting. Bagaimana pun canggihnya sistem informasi pengelolaan KM, dimana komunitas "dipaksa" atau "terpaksa" mengupload knowledge-nya ke sistem, tetapi faktor terpenting keberhasilannya terletak kepada "trust".

Waktu & Tempat: 20 Mei 2010, ruang rapat lt 6. PDII-LIPI
Peserta diskusi: Tim peneliti KM dari ITB yang dikomandani Prof. Dr. Jann, sedangkan dari PDII dihadiri oleh Kepala Pusat Putut Irwan P, bidang Pengembangan PDII, serta tim pengembangan ISJD.


Khasanah ilmu pengetahuan Islam di jaman keemasannya, juga berkembang berdasarkan "trust" ini. Dalam konsep Islam, ukhuwwah adalah wajib, oleh karena itu sharing pengetahuan berjalan begitu mulus, karena masing-masing ilmuwan tidak merasa akan dirugikan oleh partnernya. Setiap kutipan perkataan atau tulisan, ditulis secara ketat. Hal ini diambil dari ilmu  hadist, yang kemudian digunakan juga untuk periwayatan perkataan ulama. Sehingga setiap perkataan akan dapat diketahui sumbernya. Bahkan dalam ilmu hadist ini ada juga ilmu tentang "rijal", yaitu biografi orang-orang yang meriwayatkan hadist, sehingga akan diketahui mana orang yang jujur, mana yang pelupa dan mana yang sering dusta. Sehingga keotentikan suatu perkataan dapat ditelusuri dikemudian hari. Pada akhirnya, setiap sumbangsih ilmu pengetahuan akan dapat disandarkan kepada pencetus awalnya, dan setiap orang menghormati hal itu. Bahkan dengan sikap tawadhu/rendah hati para ilmuwan/ulama, maka para ilmuwan tersebut seringkali menggunakan nama samaran. Tidak ada paten, tidak ada hak cipta. Semua ilmu berasal dari Allah SWT, sehingga tugas manusian hanya mengungkap ilmu Allah SWT tersebut, maka tidak ada "klaim" ilmu.

Bagaimana dengan kehidupan keilmuan kita sekarang? Karena kita hidup di dunia materalistis, sehingga apapun diukur dari "harga", maka keilmuan juga memiliki harga. Sehingga terjadilah "penghargaan" berbasis duit. Akhirnya hilanglah tawadhu, bahkan kalau bisa meng-klaim ide orang lain untuk kepentingan diri sendiri.

Friday, November 06, 2009

Yang paling lelah, yang paling mulia tuntutannya

Orang yang merdeka lagi mulia, dalam setiap usahanya tidak pernah bertujuan melainkan tujuan yang paling jauh yang bisa dilakukannya. Karena itu dia tidak pernah berhenti mengerahkan kemampuannya sampai batas maksimal, tanpa mengenal lelah. Berupaya keras merealisasikan keajaiban yang dapat dilakukannya. Terus brilian dalam setiap langkahnya. Darahnya bergejolak, bukan darah yang lemah, apalagi mati.

Sesungguhnya yang dapat mengantarkan da'i kepada tujuannya, hanyalah kecintaan yang sangat kuat kepada dakwah, dan iman serta kepuasannya kepada misi dakwahnya. Dia larut dengannya, dan menekuninya dengan segala bakat, kemampuan dan sarana yang dimilikinya.

Inilah syarat pokok dan ciri khas utama yang harus dimiliki setiap da'i.

Tidak terbelokkan dari tujuannya, oleh kecaman orang yang mengecam.
Banyak diam.
Pikiran yang terus bekerja.
Tidak terbujuk pujian yang menyenangkan,
tidak berhenti karena celaan yang menyakitkan.
Tidak pernah gentar terhadap berbagai halangan yang merintang.
Sabar menjadi motonya.
Kelelahan menjadi kepuasannya.

Oleh karena itu, petaka bagi seorang da'i, bukan hanya perlawanan orang-orang kafir.
Bukan karena ia dipenjara, disiksa, dibiarkan kelaparn.
Petaka sesungguhnya bagi seorang da'i dan muharrik adalah kelemahan cita-cita dan kesenangannya kepada kesantaian.
Petaka sesungguhnya bagi seorang da'i adalah kesia-siaan, kelalaian dan kekosongan waktu.

Saturday, February 07, 2009

Kata dan Sejarah

Sejarah dipenuhi oleh kebiasaan para pelaku sejarah dalam memaknai kata. "Kata adalah sepotong hati," kata Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi. Kekuatan kata dibentuk terutama oleh muatan pikiran yang dikandungnya serta kadar emosi yang menyertai kat itu saat ia lepas dari mulut atau pena. Pikiran-pikiran yang kuat tersusun secara sistematis dan terekam secara jelas -- sejelas matahari dalam benak --, sudah pasti akan menemukan bentuk-bentuk ungkapannya sendiri yang unik dan mempesona saat ia meluncur dalam ucapan atau mengalir dalam tulisan.

Tetapi muatan pikiran yang kuat saja tidak cukup, diperlukan faktor lain yaitu kekuatan keyakinan. Keyakinan yang berupa emosi menggelora dan membuatnya seperti api yang membara atau gelombang yang membadai. Itulah yang membuat setiap jiwa yang berdiri di hadapannya terpesona dan semua akal yang menantangnya luruh tertunduk oleh kekuatan logikanya.

Jadi pemikiran adalah bagaikan air yang mengisi kendi kata-kata, sedangkan keyakinan dan emosi bagaikan ruh yang memberi kehidupan kepada kata itu. Maka ada kata yang lahir dan langsung mati, karena ia tidak memiliki ruh, walau terbalut dengan ribuan hiasan. Ada pula kata yang hidup abadi dalam sejarah, walau tampak sederhana, karena ia lahir dengan membawa ruh kehidupan.

Itulah sebabnya, kata merupakan salh satu indikator yang paling akurat untuk mengukur kadar keluasan wawasan dan kedalaman pengetahuan seseorang di satu sisi dan di sisi yang lain, warna dan jenis kepribadiannya.

Sumber kutipan:
"Pengantar: Tokoh, Kata dan Sejarah" oleh Anis Matta, dalam buku Haditsu Tsulasa oleh Ahmad Isa 'Asyur.

Sunday, December 14, 2008

Makna Kata

Setiap fakta diterjemahkan dalam bentuk kata-kata. Setiap kata memiliki makna. Saya ingat betul tulisan Marpaung tentang fakta sebuah botol yang terisi setengahnya dengan air. Dan ternyata tidak hanya Marpaung, sebab saat tim KM PDII di undang ke Makassar, malam sebelumnya ada gathering penelitian LSM, dan salah seorang peneliti LSM dari Australia juga menyebutkan fakta dan makna botol dan setengah isi air tersebut. Ya, fakta itu bisa dimaknai sebagai "setengah kosong" atau "setengah isi". Fakta yang sama bisa dimaknai berbeda, tergantung sudut pandang kita. Fakta botol yang terisi setengahnya dengan air, dapat dimaknai secara positif bahwa ia setengah terisi, dan dapat pula dimaknai negatif, setengah kosong.

Majalah Tarbawi edisi bulan ini memberikan ulasan editorial, biasa disebut sebagai khotorot, dengan "Mencari Makna". Lebih kepada makna optimisme.



Optimisme kadang lebih soal makna. Bagaimana kita mencari arti positif di balik berbagai hal. Fenomena maupun fakta selalu punya realitasnya yang nyata. Seperti krisis adalah krisis. Gejolak ekonomi adalah gejolak ekonomi. Politik adalah politik.


Tapi, kita bisa mengasi makna-makna optimis di balik semua itu. Meski dengan usay payah. Maka krisis bisa juga bermakna pemicu kreatifitas. Gejolak ekonomi global adalah kesadaran akan ketidaksempurnaan manusia. Politik bisa juga artinya kompetisi pelayanan. Begitu seterusnya. Itu semua sangat tergantung kepada kemauan dan kemampuan kita menggali makna-makna.


...


Optimisme kadang lebih soal makna. ... Harga minyak yang turun, benar-benar fantastis. Pialang minyak yang telah bermandi uang, sekarang pusing. Sedangkan pengguna kendaraan seharusnya menikmatinya.


Optimisme kadang lebih soal makna. Makna saja tidak cukup, memang. Perlu tindakan berlanjut. Sebab ia baru permulaan. Tapi setiap permulaan bisa sangat menentukan. Dan, makna positif adalah modal awal yang baik. Sebab tanpa makna awal yang benar, fakta-fakta tidak bisa mengubah banyak hal.


Optimisme kadang lebih soal makna. Saat jutaan orang Mukmin berkumpul di Arafah, dalam segala letih dan lelah, nun jauh dari berbagai penjuru, ada berjuta makna. Pasti, satu di antara makna-makna itu adalah optimisme bersama Allah Yang Maha Memberi harapan.